— Joker, dalam The Dark Knight
Legen…wait for it…Dary!
menyambung postingan sebelumnya tentang bahan tontonan,
saya juga akhir akhir ini lagi hobi nonton serial tv. di indonesia biasa disebut sinetron. di korea atau jepang biasa disebut drama. ya intinya film juga, tapi bedanya tv serial ini diproduksi secara bertahap, sedikit demi sedikit, dan ditayangkan secara reguler di stasiun tv. dulu pas masih kecil di televisi indonesia juga ada tv serial amerika semacem Friends(baru tau rating imdbnya 8,9). di kalangan teman saya di kampus, ada juga yang sedang booming: drama korea. sampe ada yang bisa bahasa korea coba. mantep banget lah. tapi jujur saya ga terlalu suka sama yang namanya tv serial asia apalagi drama korea yang kayaknya menye menye banget dengan dialog yang sungguh tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata.
tiba tiba di suatu sore, saya menemukan seorang teman saya, Fashhan, sedang nonton tv serial amerika yang judulnya How I Met Your Mother. penasaran, saya kopi.
rating 8,6 imdb. review bisa dilihat disini http://www.imdb.com/title/tt0460649/
satu komen setelah langsung maraton tiga season pas pertama kali nonton: EPIC! dialognya yang blak blakan dan amerika banget, terus juga karakternya yang realistis membuat saya suka sama serial ini. ada kalanya saat romantis, bikin kebawa suasana, ga jarang dapet inspirasi juga. ada kalanya dialog dan komentar yang cerdas, membuat saya sangat kagum sama high-class-jokenya orang amerika: efektif, simpel, dan jenaka.
teman saya yang terbiasa dengan drama korea ngomen: ih jijik banget gua ngeliatnya ciuman terus.
budaya kita dan budaya amerika memang beda. tak mengapalah. yang jelas, alur cerita yang lebih realistis dan dekat pada dunia kita, serta dialog yang sangat asik diselingi dengan joke joke efisien saya rasa lebih worth watching ketimbang kisah cinta melodramatis yang penuh puisi dan konflik pelik dengan dialog bertele tele. drama asia tak jauh jauh dari situ. tidak semuanya memang, tapi secara umum. contoh yang paling dekatnya ya sinetron lokal indonesia. adegan favorit semua produser adalah ngedumel separagraf tapi dalem hati, dengan shoot muka sang aktris yang lagi kesel selama setengah menit penuh. kebayang kan?
no offense, just saying.
Star Wars
dalam beberapa hari terakhir, saya sedang berada dalam ekstase kecintaan terhadap sebuah film klasik yang penggarapannya dimulai dari tahun 70’an dan seri terakhirnya baru ditayangkan pada tahun 2005: Star Wars.
entah apa yang membuat saya selalu menunda untuk menyempatkan waktu menonton seri Star Wars dari I-VI. penyesalan memang selalu datang belakangan. saya ingat, dahulu, ketika masih bilangan SD, bapak saya membelikan satu set vcd Star Wars IV, V, VI, I, dan II. saya ‘dipaksa’ untuk nonton. entah mungkin karena belum mengerti atau karena suatu hal, saya ogah ogahan nontonnya. scene yang paling saya ingat adalah scene pertama Star Wars IV, saat R2-D2 dan CP3-O lagi kabur dari serangan stormtroopers yang dipimpin oleh Anakin Skywalker a.k.a. Darth Vader. saya ingat scene itu karena dulu saya suka sekali robot.
baru beberapa belas tahun setelah saat itu, tepatnya beberapa minggu lalu, saya nonton semua serinya. well sebenarnya tidak satu film secara utuh saya tonton. cuma adegan penting saja yang saya cermati baik baik, sisanya, seperti dialog yang saya rasa merupakan side story, saya skip.
ohya, sebelum maraton menonton film ini secara keseluruhan, saya dapat informasi dari salah seorang anak 9gag bahwa urutan terbaik nonton Star Wars adalah dimulai dari IV, V, VI, I, II, baru III. saya ikuti. dan ternyata memang lebih breathtaking di saat saat terakhir. terlihat pula kontras terknologi animasi dari Star Wars IV yang masih sangat kasar dan Star Wars III yang terkini, sudah halus. tapi secara cerita, semua serinya membentuk plot yang kuat dan saling berhubungan satu sama lain. rating saya benar benar mentok untuk serial ini: 10/10.
khusus untuk Star Wars III: Revenge of Sith, saya kasih standing-feet-acrobatic-applause. plot kunci yang membentuk cerita yang utuh terletak di sini. plus epic scene saat Yoda-Sidious sama Obi Wan-Anakin battle pake lightsaber. umagaaah epic beuuudh.
—————

saya kesengsem banget sama pakaian stormtroopersnya. mau beli :3
daaan. kalo bisa, resepsi nikahan saya nanti mau yang ga biasa ah. temanya Star Wars. pager ayu sama pager bagusnya make seragam stormtroopers. trus anggota keluarga make jubah Jedi. ga ngerti lagi sumpah. tapi mau banget lah ini.
— prosa hitam (via fatisyailani)
— Brett, Tumblrer
WYATB
tumben banget ngewall rame rame. bukan, bukannya saya sok, tapi kebiasaannya itu loh. tolong yang namanya silaturahmi itu dijaga, bukan hanya dalam satu hari, satu waktu yang katanya spesial. ya, saya hargai itu, saya salut sama anda semua, yang walaupun hanya satu kali dalam satu tahun menyapa saya, lewat media digital.
tapi bukankah silaturahmi yang seharusnya itu jauh dari definisi jaman sekarang?
saya justru prihatin. dan tolong, media digital itu bukan cerminan seberapa anda peduli akan sesuatu. jika ada satu even kemanusiaan, bencana alam sebut saja, anda share fotonya sambil mencantumkan emot sedih :’(, tidak akan ngaruh apa apa sama yang terkena bencana. lebih baik anda volunteer kesana, bantu sebisanya. tanpa disebut sebut di media sosial sebagai ‘peduli kemanusiaan’ pun anda telah melakukannya dengan konkrit, nyata.
daripada anda heboh di media digital, lebih baik anda lakukan di kehidupan nyata.
teman anda ulang tahun? tak usah ngewall ‘WYATB’, ‘traktiran ya’, atau yang sejenis. lalu?
temui dia, salami, lalu doakan.
umurnya berkurang, doakan agar sisa umurnya bisa berkah.
—
K.R. Shridhar, dalam artikel Thomas L. Friedman, NY Times
http://www.nytimes.com/2012/03/11/opinion/sunday/friedman-pass-the-books-hold-the-oil.html?_r=1&ref=thomaslfriedman